Terdata 400 Gay di Ketapang

Kabupaten Ketapang menyimpan bom waktu penyebaran HIV. Komisi Penanggulangan AIDS kabupaten itu mendata sekitar 400 lelaki dengan orientasi menyukai sesama jenis.
Sekretaris Eksekutif KPA Ketapang, Soepiyat kepada cakrawala , mengatakan, data ini didapat dari relawan penjangkau yang langsung masuk ke kantong-kantong komunitas tersebut. Jumlah itu, menurutnya, naik drastis dari tahun sebelumnya, yang hanya terdata tujuh orang.
Data ini disampaikan, di hadapan Dinas Kesehatan
Ketapang, VCT Bougenville, PMI, perwakilan NU melalui Yayasan Pontianak Plus,
serta komunitas Gawai (Gabungan Waria) Ketapang. Data ini nantinya akan
disampaikan ke Bupati Ketapang dan difinalkan.
Pengelola Program KPA, Zulfahmi menambahkan,
jumlah tersebut terdata di beberapa kecamatan, yakni Muara Pawan, Matan Hilir
Utara, Matan Hilir Selatan, Benua Kayong, Kendawangan, Sandai, Delta Pawan, dan Tumbang Titi. Kecamatan Delta Pawan merupakan daerah kantong komunitas penyuka sesama jenis  terbanyak.
“Untuk hotspotnya, atau kantong
komunitasnya, di Benua Kayong terdapat 10 titik, Kendawangan empat titik,
Sandai satu titik, Tumbang Titi satu titik, Muara Pawan satu dan Delta Pawan 48
titik. Totalnya 63 titik,”tegasnya .
Sedangkan untuk individunya, Delta Pawan
terdata 236 orang, Benua Kayong 60 orang, Matan Hilir Utara 23 orang, Matan
Hilir Selatan 27 orang, Kendawang 11 orang, Sandai 12 orang, Tumbang Titi 20
orang, dan Muara Pawan 15 orang.
“Ini data per Desember 2011. Namun dari 400 orang tersebut, yang terjangkau cuma 182 orang saja, selebihnya masih data saja,” jelasnya.
Fahmi mengakui, temuan ini juga berupa fenomena gunung es, artinya tidak menutup kemungkinan jumlah yang riil di lapangan lebih besar lagi. Salah satu kendala terdatanya komunitas ini, adalah orang dengan
orientasi seksual menyimpang cenderung menutup diri dari lingkungannya.
Padahal, kata Fahmi, populasinya di masyarakat cukup besar. Hotspot yang terdata, lanjutnya, merupakan habitat atau tempat berkumpul lelaki penyuka sejenis, bisa untuk bertransaksi seks atau untuk sekadar berkumpul semata.
Dengan adanya pendataan ini, KPA mengharapkan ke depannya dapat melakukan intervensi untuk mencegah penyebaran infeksi menular
seksual (IMS). Dia menyatakan, perilaku lelaki berhubungan seks tidak aman
dengan lelaki dapat menjadi bom waktu penyebaran HIV. Apalagi, hal itu
cenderung tertutup sehingga sulit terjangkau program penanggulangan HIV/AIDS.
“Kalau dulu Penasun merupakan kelompok risiko
tinggi yang menempati urutan pertama penyebaran HIV/AIDS, kini kelompok lelaki
penyuka sejenis atau gay atau LSL, menempati urutan risiko paling tinggi,”
ungkapnya .
KPA melansir, jumlah lelaki yang berhubungan
seks dengan lelaki (LSL) di Indonesia diperkirakan 800.000 orang. Pria gay
umumnya mengidentifikasikan diri sebagai orang yang berorientasi seks sejenis  dan berpenampilan sebagai lelaki. Waria mengidentifikasi dan mengekspresikan diri sebagai perempuan. Pada LSL, orang tidak dengan jelas mengidentifikasikan diri dan bisa merupakan seorang biseksual.
Kelompok ini lebih sulit terjangkau karena
cenderung tertutup, tidak melakukan tes HIV, sehingga tak terjangkau program.
Padahal, sama dengan gay dan waria, seks tidak aman oleh LSL berisiko tinggi
menularkan HIV (sam)




Tulisan Populer

coded by nessus

Leave a Reply

Menu
Live Traffic Feed





Wajib Klik





Sponsor



online counterPhotoblogTop BlogsCheck PageRankPage Rank CheckerPersonal blogs

Ranking Internasional